RSS

SITI JENAR DIANGGAP PROVOKATOR KESADARAN

01 Okt

Siti Jenar Dianggap Provokator Kesadaran
By: Ki Abduljabbar
Disadur daru buku Agus Sunyoto, suluk malang sungsang
http://irdy74.multiply.com/recipes/item/89/Siti_Jenar_Dianggap_Provokator_Kesadaran

Tulisan ini bermaksud untuk lebih membuka wawasan tentang sejarah pembawa ilmu Wahdatul wujud sebagai mana Al-Hallaj juga harus mengalami hukuman mati yg dilakukan oleh penguasa pada jamannya yg nota bene juga tidak bisa menunjukkan kesalahan apa yg diperbuat oleh Al-Hallaj, kecuali rasa tidak senang kaum Fuqaha (ahli syariat). Jadi kebetulan KI Dalang Sosro Birowo mengajarkan Asma Dzat, semoga juga dapat dipahami secara bijaksana, yaitu tidak gampang sekali mengatakan ajaran sesat dan sebagainya. zlebih baik kita menyelam agar dapat melihat kedalaman laut dari pada hanya melihat dipermukaannya saja. Saya rasa Ki Dalang Sosro Birowo dapat mengajarkannya kepada Anda. Baiklah saya awali ceritanya begini:

Makanya para pengikut Siti Jenar itu kemudian dikelompokkan sebagai golongan abangan. Artinya, pengikut ajaran Lemah Abang (nama lain Siti Jenar, Red). Ketika membuat dikotomi santri-abangan, Clifford Geertz (antropolog Amerika) tidak tahu hal itu. Kalau golongan abangan diidentifikasi dengan selamatan, itu kekeliruan yang sangat fatal.

Historisitas sosok Syekh Siti Jenar yang banyak dimitoskan orang kini pelan-pelan terkuak. Beberapa penelitian serius telah menyingkap sosok dan aspek-aspek ajarannya. Benarkah ia sosok yang murtad dari sudut pandang agama? Selasa lalu (15/5) Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) berbincang-bincang dengan Agus Sunyoto, penulis tujuh jilid buku fiksi sejarah tentang tokoh kontroversial tersebut.

Mas Agus, bagaimana riwayat ketertarikan Anda meneliti sosok Syekh Siti Jenar?

Kakek saya dari pihak ibu adalah orang Jombang. Dia mengaku orang yang mengamalkan ajaran Syekh Siti Jenar. Ketika saya tanya darimana memperoleh pengetahuan itu, dia jawab, ”Lho, saya kan santri Tebu Ireng angkatan pertama!” Dia meninggal tahun 1995 dalam usia 105 tahun. Satu-satunya guru yang dia ikuti ajarannya sampai saat itu adalah almarhum KH Hasyim Asyari. ”Berarti Mbah Hasyim mengajarkan soal ini, dong?” tanya saya. ”Lha, iya!” katanya. Saya berpikir, darimana dia dapat itu kalau bukan dari Mbah Hasyim langsung. Tapi saya masih ragu: masak Mbah Hasyim mengajarkan itu?! Dari beberapa sumber lain, saya mendapat jawaban yang sama. Jadi saya berkesimpulan bahwa benar bahwa Mbah Hasyim mengajarkan itu.

Apakah ajaran-ajaran Siti Jenar masih berjejak dalam masyarakat Jawa saat ini?

Ada. Itu terlihat dari adanya guru-guru tarekat atau kebatinanan dari kalangan pribumi. Sebelum Siti Jenar, masyarakat pribumi tidak boleh menjadi guru (tarekat). Setelah itu baru boleh.

Unsur-unsur apa dari ajaran Siti Jenar yang masih tampak dalam tarekat yang mengklaim tersambung dengan dirinya?

Dalam hal egalitaranisme. Mereka egaliter sekali. Tarekat mereka tidak mengenal adanya mursyid-mursyid yang diagungkan. Kalau mereka berdiskusi soal-soal teologis, maka kedudukan guru tidak ada sama sekali. Semua orang adalah lawan bicara. Jadi tidak ada kultus mursyid. Ciri lainnya, cara mereka menuju Tuhan sangat individualistik. Toh, Nabi Muhammad ketemu Tuhan dengan cara sendirian di Gua Hira. Mereka tidak rame-rame. Kalau dilakukan rame-rame, itu namanya demonstrasi, bukan mencari Tuhan. Ketiga, masing-masing pengikut tarekat ini tidak saling kenal, dan ajaran-ajarannya disampaikan secara rahasia.

Doktrin apa yang tampak paling mencolok dari tarekat mereka?

Yang utama soal tauhid. Pemahaman tentang ini agak beda dengan pemahaman awam. Tuhan bagi mereka adalah sesuatu yang tidak terdefenisikan. Laitsa kamitslihi syai’un atau Dia adalah yang tidak bisa digambarkan. Siti Jenar juga mengatakan bahwa ke-99 sifat Tuhan di dalam asma’ul husna itu juga ada potensi-potensinya dalam diri semua manusia.
Manusia punya sifat sabar, karena Allah punya sifat as-Shabûr (Mahasabar). Manusia sombong karena memang ada sifat al-mutakabbir (Mahasombong) pada Allah. Ada juga sifat ad-Dhâr, Yang Maha membuat bahaya. Lah, manusia itu kan seringkali melakukan hal yang membahayakan orang lain maupun dirinya. Jadi, bagi Siti Jenar, tanpa adanya manusia, tidak ada asma’ul husna, karena dia juga mengejawantah di dalam diri manusia.

Pandangan teologis Siti Jenar itu qadariyah, jabariyah, atau apa?

Tidak itu semua. Bagi dia, orang yang mengamalkan ajarannya haruslah hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari situ dapat dibuktikan bagaimana citra insan kamil (manusia sempurna) itu mengejawantahkan sifat-sifat Tuhan. Artinya, manusia adalah cerminan Tuhan. Karena itu, manusia harus mengamalkan watak as-Shabûr, al-`Âdil, al-Hakîm, dan watak-watak Tuhan lainnya.

Siti Jenar punya struktur berpikir yang sederhana. Misalnya dia bicara soal al-khâliq, Mahapencipta atau Sang Pencipta. Kata ini terdiri dari tiga huruf: kha’, lam, qaf. Dari kata khâliq itu justru ada ciptaan atau al-khalq. Jadi ada pencipta dan ada ciptaan. Karena itu, munculnya khalq atau ciptaan berasal dari kha-la-qa dan al-khâliq. Hurufnya masih sama: kha’, lam, dan qaf. Nah, bagaimana cara si khalq menuju khâliq?

Ada perantara bernama khuluq, budi pekerti. Khuluq-nya siapa? Khuluq yang karim (budi pekerti yang mulia). Semakin seseorang tak bisa mengejawantahkan khuluq itu, makin jauh dia dari Tuhan. Kalau khuluq-nya jelek, ya mesti jauh dari khâliq. Kalau mau dekat, ya harus mencerminkan perilakunya sang khâliq.

Ya, perbutan sehari-hari. Ritual salat misalnya, (yang penting) efeknya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar (menjauhkan dari perbuaran keji dan munkar, Red). Khuluq itu ada dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, orang tidak boleh mengasingkan diri dari kehidupan dan masyarakat. Khairun nas anfa`uhum lin nas (sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, Red). Makin banyak manfaatnya akan makin bagus; makin mulia. Makin banyak mudaratnya, makin jelek orangnya.

Lalu fungsi ritual agama seperti apa?

Kalau kembali ke syariat, satu-satunya agama yang mensyaratkan uji empiris adalah Islam. Semuanya empiris, dan yang tidak empiris tidak diakui. Orang yang beriman harus jelas: diyakini di dalam hati, lalu diucapkan dengan lisan. Pengujinya apa? Perbutan! Kalau ucapanmu tak sesuai dengan tindakanmu, maka stempelmu adalah munafik. Itu empiris! Jadi, dasar pertama adalah uji empiris. Sampai menyangkut soal salat. Untuk menandai kamu Islam, ya salat. As-salâtu `imadud dîn, salat itu tiang agama. Jadi, ujinya empiris.

Lantas di mana titik polemis antara Siti Jenar dengan para wali lainnya?

Memang tidak ada (dalam soal itu). Tapi Siti Jenar juga mengajarkan unsur tarekat yang di dalamnya terkandung pengetahuan-pengetahuan spiritual. Yang namanya spiritualitas itu kan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Sementara, bagi ulama yang berpikiran fiqih atau syariat-sentris, pengalaman spiritual itu bersifat sangat pribadi. Bagaimana membuktikannya?!
Kalau sudah fana ketemu Tuhan, apa tandanya? Karena itu, susah memahami ungkapan sosok seperti al-Hallaj, wamâ fî jubbatî illalLâh, tidak ada lain dalam jubahku kecuali Allah. Atau ungkapan anal haq! (akulah Sang Kebenaran) dan ungkapan lainnya. Semua itu tidak bisa dibuktikan secara empiris. Makanya, itu dianggap salah. Karena standar ujinya empirisisme.

Apa beda teori penciptaan Siti Jenar dengan teori pancaran atau emanasi (nazariyyatul faidl) dari Ibu Sina?

Dalam pandangan Siti Jenar, munculnya segala makhluk berasal dari itu tadi: khâliq menjadi khalq. Kemudian ada juga istilah ma`bûd (sembahan) dengan `âbid (penyembah). Hurufnya sama. Bagi Siti Jenar, ada tuan dan ada hamba. Di antara keduanya ada yang bernama `ibâd (kawulo). Dari sini juga muncul kata ibadah. Jadi, hubungannya lurus; harus lurus. Kalau hubungan `ibâd dengan ma`bûd makin tidak lurus, itulah yang dinamakan bid’ah.
Jadi, bid’ah tak dimaknai sebagai sesuatu yang ditambahi-tambahi dalam agama. Standarnya tidak fikih. Kalau sesuatu menyimpang dari tauhid, itu baru bid’ah. Kalau orang melakukan ibadah, misalnya sedekah, untuk pamer-pamer, bukan untuk ma`bûd-nya, itu bid’ah, pamer! Ayo tivi, shooting saya yang nyantuni anak yatim! Itu bid’ah namanya. Itulah pemaknaan Siti Jenar.

Untuk memperantarai hubungan khâliq dengan khalq, ada konsep nur muhammad. Anda memaknainya sebagai ”cahaya yang terpuji”, bukan cahaya Nabi Muhammad. Mengapa?

Itu pemaknaan Siti Jenar. Nama muhammad itu kan terhitung baru. Sebelum Islam, tak ada orang Arab bernama Muhammad. Dan yang menyampaikan konsep nur muhammad juga bukan Nabi Muhammad. Ini konsep perantara untuk penciptaan awal. Nur muhammad inilah yang oleh Siti Jenar dianggap sebagai cara pemunculan hakikat muhammadiyah.

Ceritanya begini. Taruhlah nur muhammad itu biji nangka yang sudah ada konsep buah, daun, batang, dan lainnya. Itu sudah ada. Tapi dia dibungkus dalam biji nangka. Nah, hakeket muhammadiyah baru ada kalau buah itu ditanam, tumbuh, dan betul-betul menunjukkan ada konsep daun, batang, akar, dan lain sebagainya. Jadi, konsep nur muhammad itu tidak bermakna eksklusif bahwa penciptaan harus lewat jalur Nabi Muhammad. Menurut Siti Jenar, seluruh makhluk, apapun agama dan jenisnya, berasal dari konsep nur muhammad itu.

Bagaimana sikap Siti Jenar terhadap keragaman budaya lokal di Jawa?

Dia justru mengakomodasi itu semua. Karena itu, terhadap agama Kapitayan, agama tauhid pra-Hindu, dia langsung ambil-alih. Bagi dia, untuk menyebarkan Islam, ini sama saja. Tapi dia juga memodifikasi. Kalau untuk menyembah Tuhan, bagi dia tak usah pakai istilah salat. Sebab, agama Kapitayan sudah pakai istilah sembah Hyang. Kata itu lalu dipakai. Hyang itu dalam bahasa Kawi artinya dewa.

Bagaimana memodifikasi Hyang sebagai dewa jadi Hyang sebagai Allah?

Begini! Ajaran Kapitayan itu memuja dewa utama bernama Sang Hyang Toyo. Dalam bahasa Jawi, Toyo itu berarti kosong, hampa, suwung. Dia tan kena kinaya; tak bisa diapa-apakan. Dinalar nggak bisa, dilihat nggak bisa, didefenisikan juga nggak bisa. Itu sama dengan ungkapan laitsa kamitslihi syai’un. Nah, kalau begitu, bagaimana orang bisa tahu Sang Hyang Toyo kalau Dia tidak bisa didefenisikan?

Dalam Kapitayan disebutkan, Dia muncul dalam bentuk pribadi yang disebut tu atau to. Artinya kekuatan yang punya daya sakti. Daya sakti dari kekuatan Hyang Toyo inilah yang sudah dikenal sifatnya. Ada dua sifat, yaitu baik dan buruk. Sifat baik disebut tu, lalu menjadi Tuhan; sementara yang jelek disebut hantu. Karena itu, dalam asumsinya orang-orang, hantu mesti jelek, dan Tuhan mesti baik. Itu dari Kapitayan dan bahasa Kawi.

Tapi orang juga mikir, di mana tempatnya Sang Hyang, yaitu hantu dan tuhan ini? Wong dia juga masih abstrak dan hanya ada sifatnya! Lalu diyakini, tu bisa muncul pada sesuatu. Sesuatu yang disebut tu: watu, tugu, tuban (air terjun), tuk (mata air), tunggul, tunggak, tumbak, tulang. Semua ada di situ dalam bentuk kekuatannya.

Bagaimana membedakannya dengan paham animisme, misalnya?

Beda. Ini sesuatu yang dianggap ada rohnya. Kalau animisme dan dinamisme, semuanya benda saja. Ini tidak begitu; dia hanya berwujud kekuatan gaib. Ini juga ada ujungnya, yaitu Tuhan yang tidak bisa didefenisikan itu. Toyo tadi.

Kaum animis pun menganggap barang-barang sembahan itu hanya medium penyembahan saja?!

Tapi dalam animisme dan dinamisme, tidak ada konsep satu Tuhan yang abstrak. Sang Pencipta macam-macam, itu tidak ada. Dari situlah orang melakukan sesaji dengan tumpeng, tukung, tumbu, dan seterusnya. Bahkan untuk upacara tertentu yang bersifat rahasia untuk mewujudkan keinginan yang besar, biasanya ada sesembahan khusus yang bernama tumbal.

Bagaimana Siti Jenar menyikapi sesaji itu?

Dia melihat ujungnya adalah tauhid. Nah, masyarakat di luar Keraton waktu itu adalah pengikut ajaran ini, bukan ajaran Hindu. Agama Hindu itu hanya dianut orang-orang Keraton. Jadi mereka masih ke arah ini (tauhid). Dan masyarakat juga masih dibiarkan membikin tumpeng, sesaji, dan semacamnya.

Jadi dia tidak lakukan konfrontatif. Karena itu, tempat ibadahnya orang-orang Kapitayan yang namanya sanggar, bentuknya diambil-alih kemudian. Tapi namanya bukan lagi sanggar, tapi langgar. Karena itu langgar di Jawa itu berbeda dengan langgar di tempat lain. Yang namanya mihrab itu adalah ruang kosong yang menjorok ke dalam. Itu dulu punya orang Kapitayan. Tempatnya seperti gentong yang masuk ke dalam. Itulah namanya kosong, suwung. Bentuknya sama persis dengan mihrab sekarang.

Kemudian ada juga ibadah Kapitayan yang mirip seperti orang-orang Islam, yaitu tidak makan sehari. Tapi namanya bukan shaum, melainkan pawasa atau puasa. Itu artinya juga tidak makan sehari, dari bahasa Kawi. Kemudian juga cerita soal surga-neraka. Bagi Siti Jenar, tidak usah pakai istilah jannatul firdaus, jannatu adn, dan sebagainya. Masyarakat tidak mengerti. Maka dipakailah kata suwarga dan neraka yang orang-orang sudah mengerti. Kosa kata itu sudah digunakan sejak lama. Termasuk ketika menyebut penghuni surga. Tidak usah pakai hûrin `în segala. Orang tidak akan tahu. Pakai saja istilah bidadari.

Ajaran apa dari Siti Jenar yang dianggap mengkhawatirkan kekuasaan?

Ketika dia mengubah konsep kawulo menjadi masyarakat. Terutama ajaran tentang manunggaling kawulo gusti. Artinya, kesetaraan antara rakyat dengan penguasa. Masyarakat itu berarti orang yang punya hak sama, dari kata musyârakah (Arab: berpartisipasi dan bekerjasama).

Pengikut-pengikutnya tak dibolehkan memakai kata kulo atau kawulo, tapi pakai kata ingsun. Makanya, orang Cirebon sampai sekarang menyebut aku, ya ingsun. Itu membuat marah raja. Dalam tatanan sosial-budaya saat itu, kata ingsun hanya berhak digunakan raja. Kok banyak orang desa menyebut dirinya ingsun?! Ini dianggap merusak tatanan.

Juga ajarannya bahwa pemimpin harus dipilih. Karena itu, demokrasi pertama itu ada pada ajaran Syekh Siti Jenar. Dia yang memelopori kepemimpinan ki ageng. Kota Cirebon saat itu disebut garade (negara gede). Sebab, saat itu yang berkuasa orang-orang gede. Negaranya para orang gede. Maksudnya bukan negara yang besar. Tapi negaranya orang-orang besar.

Sekarang kita menerima kata masyarakat secara taken for granted. Kita tak tahu konsepsi apa di balik kata itu. Makanya para pengikut Siti Jenar itu kemudian dikelompokkan sebagai golongan abangan. Artinya, pengikut ajaran Lemah Abang (nama lain Siti Jenar, Red). Ketika membuat dikotomi santri-abangan, Clifford Geertz (antropolog Amerika) tidak tahu hal itu. Kalau golongan abangan diidentifikasi dengan selamatan, itu kekeliruan yang sangat fatal.

Apakah ajaran Siti Jenar atau tarekatnya sekarang mungkin berkembang?

Mungkin saja. Tapi ajarannya itu sebenarnya tertutup. Ada beberapa pejabat aneh yang saya curigai menganut ajaran ini. Setelah saya dekati dan ajak ngobrol, ternyata benar. Masak pejabat tidak mau terima suap, tidak korupsi, dan sebagainya?! Ini kan aneh. Mengidentifikasi mereka itu gampang.
Mereka biasanya aneh dan tak mau ikut orang kebanyakan. Ada pejabat yang dalam kondisi sekarang kok jujur, tidak korupsi, tidak dekat-dekat wartawan. Pokoknya tak mau ikut kebiasaan para pejabat umumnya. Setelah saya dekati, biasanya dia mengaku pengikut Siti Jenar. Ada seorang pejabat yang tiap kali gajian justru membeli sembako untuk para tetangganya yang miskin. Padahal, hidupnya biasa-biasa saja. Ternyata, orang itu mengamalkan ajaran Syekh Siti Jenar. Pokoknya, orangnya aneh-aneh.

Jadi jauh dari kesan negatif yang dicitrakan selama ini, dong?!

Ya. Soalnya, babad-babad yang ditulis tentang Siti Jenar itu adalah tulisan orang Keraton semua. Mereka merasa sebagai pihak yang dirugikan oleh Siti Jenar. Karena itu, sikap orang Keraton Mataram sangat ambigu terhadap Siti Jenar. Di satu sisi mereka memitoskan hal-hal yang baik dari Siti Jenar, di sisi lain merasa dia membahayakan kedudukan raja. Dalam ajaran Siti Jenar tidak boleh ada kedinastian.

Aspek lain yang dianggap mengancam adalah soal pemimpin yang harus dipilih. Dulu tidak begitu. Pemimpin seperti jabatan dari Tuhan. Selain itu juga ajaran untuk menahan pajak sebagai penentangan terhadap pemimpin. Bagi Siti Jenar, kalau anda tak suka kekuasaan, ya apa yang mendukung kekuasaan itu dipotong saja. Jadi, perlawanannya taktis. Kalau diperintah sesuatu, bilang ”ya” saja, tapi jangan dilakoni. Makanya, para penguasa jengkel. Bagi pemerintah saat itu, apa yang dikatakan itu serius sekali. Siti Jenar dianggap provokator yang membangkitkan kesadaran orang atas hak-haknya.

Semoga tulisan ini menambah wawasan seluruh sedulur Energi sejati.

Wassalam,
Ki Abduljabbar

 
94 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Oktober 2011 in ARTIKEL, FAKULTAS INSUN SEJATI

 

94 responses to “SITI JENAR DIANGGAP PROVOKATOR KESADARAN

  1. tukangtakon

    2 Oktober 2011 at 5:08 PM

    raLat
    mksud sy..
    @OM AR-RISKY
    sy suka sikap anda,
    jd disudutkn tdk dibLs menyudutkan,g ada ujung2’y nanti’y.
    ngaLah ajLh

     
  2. Sorak2 horeee

    2 Oktober 2011 at 6:14 PM

    @sadar… Benar katamu..blajar ilmu sejati kok digunakan panggil jin dan roh.. Aneh..

     
  3. salihi

    2 Oktober 2011 at 8:10 PM

    selami dulu baru komen

     
  4. Mualaf

    2 Oktober 2011 at 10:10 PM

    @km ki dalang mhn izinnya.
    Bagi yg mau ikt penyelarasan yg ke 2 silakan kirim datanya. Muhamad soleh.

     
  5. Taufik alhidayah

    3 Oktober 2011 at 12:37 AM

    Sifat2 mustahil yang kebalikannya daripada sifat2 allah ,adalah sifat2 dari pada makhluk itu sendiri,karna allah telah memberikan sifat nafsu padanya, allah mempunyai sifat “ARROHMAN” ( welas asih kepada semua mahluknya baik yg beriman maupun yg tidak beriman tanpa terkecuali), dan “ARROHIM” (welas asih kepada semua mahluknya yang beriman saja).

     
  6. MBAH JATI

    3 Oktober 2011 at 12:49 AM

    seekor anjing yang dipelihara tak menggigit tuannya, kesetiaannya mengalahkan manusia.

     
  7. Boedi Alwa

    3 Oktober 2011 at 2:00 AM

    ADAKAH YG TAU CIRI FISIK NABI KHIDIR YG TIDAK BISA DITIRU JIN MAUPUN SETAN.

     
  8. Arie_Saja_Lah

    3 Oktober 2011 at 3:34 AM

    Salam hormat untuk sesepuh semua terutama Ki Abdul Jabar…
    Nuwun pencerahannya ki,,mantapp…

    KM Boedi Alwa,mohon ijin jawab,,menurut kabar yg saya denger sih katanya ciri fisiknya pada jari jempol tangannya tiada bertulang,alias ga ada tulangnya.Tapi itu baru “katanya” lho kang mas,belum liat sndiri hehe…
    Jadi jgn terlalu dipercaya,anggep saja angin lalu..

    Wassalam

     
  9. to_samiaji@

    3 Oktober 2011 at 4:43 AM

    bnr km@ ari_
    met pg sedulur BS smua. . .

     
  10. tukangtakon

    3 Oktober 2011 at 6:26 AM

    aLL met pg..
    @Mas BA,
    spt diket. bersm,
    smua mkhLuk bs ditiru setan kcLi Nabi Muhammad,
    sLh tips:
    bc aLfatihah thn nFs

     
  11. tukangtakon

    3 Oktober 2011 at 6:32 AM

    tiupkn,kLo brubah paLsu,
    Jk dtg scr fsk,tmpt yg dipijak akan hijau tumbuh subur,wLo td’y rumput kering mati,
    ini jg kt’y

     
  12. Taufik alhidayah

    3 Oktober 2011 at 7:06 AM

    Salam salim KM boedi alwa pripun kabare KM?bila sudah di temui atau juga menemui bacakan solawat sebanyak2 nya apabila berubah berarti bukan,itu aja yang ana dapat dari guru ana dan sudah ana buktikan kebenerannya

     
  13. Gus Noer

    3 Oktober 2011 at 8:52 AM

    Nuwun Sewu sesepuh semua, wah bicara angin syurga emang menggiurkan…
    Mohon Maaf mbah jabar tulisan panjenengan ini murni dari buku mas Agus sunyoto sing wartawan dan juga spiritualis ya??? dalam kemapanan syariat dan di imbangi menempuh thorekhot….untuk menuju Hakekat & Ma’rifat serta bisa menemukan iman Yakin, ainul yakin dan haqqul yakin itu sih mantab, tp mohon maaf apa semua juga sudah terpikir matang2 oleh panjenengan bahwa Ajaran Syech Siti Jenar yg jg banyak di anut kyai2 sepuh di Jatim dan di jawa secara umum ini trus di maknai dan di komentari dengan “Maaf” agak sedikit terlalu berlebih dalam arti “Maaf” adik2 kita yg semangat mencari ilmunya super tinggi akhirnya akan menjadikan dalil Cukup dengan Manembah Marang Gusti tp secara syariat masih jauh, ya minimal sholatnya sedikit mendekati 5 waktu, kalau hanya cukup dengan semedi dan eling aj wahhh bisa gaswattt. Mohon maaf & matursuwun

     
  14. Arya

    3 Oktober 2011 at 9:13 AM

    Syeh Siti Jenar tokoh yg menimbulkan pro dan kontra……………………..

     
  15. ¤ Erlambang Al Haq ¤

    3 Oktober 2011 at 9:38 AM

    Aben siang . . . . . Nyimak wae . . .

     
  16. Sorak2 horeee

    3 Oktober 2011 at 10:35 AM

    Sekarang itu emang KATANYA jd TREND
    qiqiqi.. Slm damai BS

     
  17. Shah Ray

    3 Oktober 2011 at 11:23 AM

    Absen siang….nyimak

     
  18. ¤ Erlambang Al Haq ¤

    3 Oktober 2011 at 8:13 PM

    Da energi dri lpis 4 mnyerang . . .

     
  19. ¤ Erlambang Al Haq ¤

    3 Oktober 2011 at 8:29 PM

    Kaum abngan tmpil k prmukaan . . . . Dri sntrix . . .

     
  20. harsa

    3 Oktober 2011 at 8:36 PM

    Absent malam
    Semoga Cinta Kasih Kepada Seluruh Dzat _/||\_

     
  21. harsa

    3 Oktober 2011 at 8:36 PM

    Absent malam
    Salam Cinta Kasih Kepada Seluruh Dzat _/||\_

     
  22. ochim

    4 Oktober 2011 at 11:38 AM

    askumwb.
    salam ta’dzim semua bolo sejati.
    @mbah dalang c.k,mantab babarannya,mksh ya…ternyata SYEH SITI JENAR sang pencetus demokrasi sejati ya mbah….

     
  23. Andri kick hopper

    6 Oktober 2011 at 6:58 AM

    Absen pagi dulu,udah lama gak masuk kampus

     
  24. teguhanto73@yahoo.co.id

    7 Oktober 2011 at 2:05 PM

    Salam

     
  25. teguhanto

    7 Oktober 2011 at 2:07 PM

    Salam aja ya

     
  26. Ki Dalang Cipto Kawedar

    8 Oktober 2011 at 11:10 AM

    Betul Gus Noer, setuju dengan pendapat panjenengan. Manusia itu kalau dilarang jangan minum arak, eh…. malah penasaran ingin minum arak. Sama hal nya kalau dilarang jangan mengamalkan Asma Dzat, malah menjadi penasaran ingin mengamalkannya. Lebih baik ya silahkan saja mengamalkan, nanti yg merasakan dirinya sendiri. Kita ini kan seperti sudah pintar, ingin manunggal dgn Gusti Allah Ta’ala dgn harapan memiliki kemampuan super dari orang lain, syukur-syukur bisa memiliki kemampuan seperti Allah Ta’ala (astaghfirullah…).

    Tidak heran kalau masih banyak pengamal syareat dan sedikit pengamal hakekat. Hal ini terbukti masih banyaknya orang mengatakan bid’ah. Nah… kata bid’ah ini adalah refleksi dari kuatnya syareat tetapi lemah di hakekat. Contoh yg sering kita tidak sadar, adalah kita dzikir “SUBHANALLAH” tetapi kita juga dzikir amalan yg mengharapkan batuan KHODAM, artinya hakekat subhanallah itu kita sendiri yg menodainya.

     
  27. embun jati

    8 Oktober 2011 at 4:51 PM

    trus menurut pendapat GURU BESAR KDCK sendiri gimana,kita dilarang ato tidak mengamalkan asmak dzat ini??
    mohon diperjelas&dipertegas dan klo bisa jangan mengambang.
    kami perlu nasihat dari anda karna menurut kami anda sosok yg cukup bijaksana.

     
  28. singarajeh

    9 Oktober 2011 at 10:05 AM

    ijin nyimak….
    tmpuhlah syariat menuju makrifat TAPI jgn dibalik.
    SAlAM DAMAI…

     
  29. scofield

    13 Oktober 2011 at 10:43 PM

    Assalamualaikum, saya baru saja membaca artikel ini. menurut saya artikel di atas sudah cukup jelas asal kita menyelaminya dengan baik. terimakasih buat blog ini sudah menerbitkan artikel ini. maaf buat semua pihak apabila ada salah kata.

     
  30. scofield

    13 Oktober 2011 at 11:07 PM

    terima kasih buat yang sudah menerbitkan postingan ini.

     
  31. Nimba ilmu

    15 Oktober 2011 at 6:42 PM

    Assalamu’alaikum wr.wb….absen malam dan menyimak…..sambil ngopi….all bolo sejati persaudaraan….wassalan

     
  32. panut

    21 Oktober 2011 at 1:10 AM

    mantab ki pencerahannya ……:)

     
  33. masjk

    31 Oktober 2011 at 7:20 AM

    assalmukum .. ki

    salam kenal juga untuk semua. info ini cukup menjadikan cerah terutama saya, yang belum membaca mengenai SSJ versi Agus Sunyoto. dan dengar2 versi Agus Sunyoto kanjeng SSJ itu tetap melaksanakan syari’at, dan entah mengapa saya begitu yakin bahwa hal ini benar. dan SSJ ini sbgmn kita tahu bahwa beliau bukan sekedar orang awam yang muncul tiba2 dalam dunia keagamaan. istilah SSJ ttg “manunggaling kawulo gusti” saja itu sudah membuat hiruk pikuk🙂 ..

    judul provokator “kesadaran” itu saya rasa cocok sekali. hanya sj bagi saya “kesadaran” itu substansinya tentang ajaran “ma’rifat” di dalam islam dan bukan urusan kenegaraan waktu jamannya. beliau telah banyak mengingatkan kembali pemikiran2 tauhid murni, tasawuf dan para sufi yg zaman sekarang ini sudah langka.

    dan seyogyanya jangan lagi SSJ itu dipojokan dengan pernyataan sbg tokoh yang “menentang syari’at”, karena itu sudah jelas mematikan “obor” ketauhidan belum banyak dikaji yang tersirat dalam ajaran islam. karena dengan tasawuf dengan ajaran2 ma’rifatnya ssungguhnya kita menjadi tahu kesempurnaan al qur’an dan ketauhidan kanjeng muhammad saw.

    hanya saja mungkin kita tidak perlu menginguti “oknum2” yang mengikuti ajaran SSJ yg istilah saya menjadi penganut ma’rifat “kebablasan”, yg sdh terjerumus pada peng”kultus”an pd sosok dan bukan pada ajarannya. sehingga muncul pemahaman “aku adalah tuhan dan tuhan adalah aku” kalau pernyataan itu kita yg gembar-gemborkan, justru nantinya kita bisa sbg provokator anti kesadaran🙂 … yg bs menjelekan SSJ dan dunia sufi umumnya. sepertinya halnya al-halajj .. pernyataan itu belum pantas kita yang mengucapkan untuk keluar, karena bnyk menimbulkan fitnah. kedudukan kita sangat jauh berbeda dengan beliau yg sungguh2 mendalami dunia tauhid (sisi mistisnya). semuanya itu sebenarnya masuk dalam ajaran iman, sbgmn kita menyakini “isra’ mi’raj”-nya rasulallah saw.

    akhir kata .. yang teramat penting barangkali bahwa kita harus kembali pada tauhid murni. semuanya berada dalam ilmu allah, kita tinggal “memakai” saja. kita bukan menyembah syariat, amal, surga, neraka atau makluknya tapi allah azza wajjalla. kita ridho dengan aturan2-Nya nanti baru bisa berbicara ridho-Nya. ilmu-Nya meliputi dzohir dan batin, dan tidak semua yang batin bisa dianalisa dgn dzohir tapi harus dilakoni secara pribadi tanpa wasillah (perantara).

    “… jika ingin berjumpa dengan AKU, maka hendaklah berbuat BAIK dan berAMAL SHOLEH”.. (al qur’an – al kahfi 110)

     
  34. Ki Dalang Cipto Kawedar

    31 Oktober 2011 at 8:47 AM

    Saya sangat terharu dengan komen “masjk”, begitulah harapan saya dari lubuk hati yg paling dalam. Kemurnian TAUHID itu tidak perlu PERANTARAm (wasillah).

     
  35. Arya Wisanggeni

    31 Oktober 2011 at 10:05 AM

    Alhamdulilah di kampus ini kita jadi saling mengingatkan……
    Barakolloh……………

     
  36. rangga jati

    25 November 2011 at 8:24 AM

    permisi ikutan nyimak n coment ya ki…..
    kita semua mahluq yang harus berahlak dengan ahlaq khaliq karena dengan husnul khuluq kita nderek kanjeng nabi,…….liutammimma makarimal ahlaq.siapa yang ngaku cinta pada Allah haruslah cinta pada nabinya.saya lihat ada kearifan lokal yang di tampilkan kanjeng SSJ yang di titik beratkan pada tauhid dan ahlaq pada khalik maupun pada mahluq.
    syi’iran Gusdur
    Duh bolo konco priyo wanito
    Ojo mung ngaji syareat bloko
    Gur pinter ndongeng nulis lan moco
    Tembe mburine bakal sengsoro

    Akeh kang apal Qur’an Haditse
    Seneng ngafirke marang liyane
    Kafire dewe dak digatekke
    Yen isih kotor ati akale

    Gampang kabujuk nafsu angkoro
    Ing pepaese gebyare ndunyo
    Iri lan meri sugihe tonggo
    Mulo atine peteng lan nisto

    Ayo sedulur jo nglaleake
    Wajibe ngaji sak pranatane
    Nggo ngandelake iman tauhide
    Baguse sangu mulyo matine
    ngapunten…..para sedulur

     
  37. panca

    27 November 2011 at 8:40 PM

    Sya stuju dngan pndapat bpk, tp saya ada sdikit pertanyaan mdah2an bpk berknan untk mnjwabnya. Begini, sya tinggal di daerah banten slatan yg notabene pnduduknya sangat kntal skali Sama trdisi buhun ( tradisi yg turun tmurun.sbelum menjadi Ssepuh buhun ( biasa dipanggil Olot ) mreka mengrjakan shalat, tp stelah mnjadi sspuh mreka tdak ska mngerjakan shalat, tpi kepada anak anaknya serta kturunannya slalu menyarankan untk belajar agama. Apakh ini ada kaitanya dg syeh siti jenar?

     
  38. huwahahaha........

    18 Desember 2011 at 8:40 AM

    tengelam…akan mengerti lautan

     
  39. abdulfaqiralrumi

    23 Desember 2011 at 2:49 PM

    ijin nyimak….
    memang pada dasarnya orang-orang sekarang ini cuma pada pinter dongeng,tidak tahu asal usul aslinya,
    jangan pernah bilang anggur itu enak kalau tidak merasakannya sendiri……sungguh pengetahuan yang luar biasa,salam untuk ki ageng2 semua salam takzhim,mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan.

     
  40. Hideung padedegana

    6 Januari 2013 at 9:59 AM

    ??. Nyimak aja.

     
  41. Nukami

    26 Januari 2013 at 6:15 PM

    Assalamualaikum Ki Abduljabbar
    Saya ingin tahu lebih dalam mengenai aqidah syekh siti jenar.

     
  42. bouwie

    20 Juni 2013 at 7:08 PM

    Ass.. bAru dlm tahap baca n belajar tp i like it

     
  43. agusabdul kholiq

    21 Juli 2013 at 4:53 AM

    terima kasih semua atas posting coment.. jalan tengah bagi kami adalah solat berjamaahdanmengamalkan asma dzat.. mnumbuhkn ksadaran diri untuk mnjdi manusia kamil.mnjadi brarti ada hamba dan TUHAN.

     
  44. Layinul Qolbi

    27 Juli 2015 at 1:24 AM

    🙂 Keadaan sedulur masih wae podo ning zaman kasunanan. elmu iku lentera. sedulur masih rebutan fungsi lentera dudu nganggo lentera iku kanggo madangin mlakune sedulur. dudu syeikh siti jenare sing penting tapi elmu kang di ajarkena maring panjenengan kanjeng syeikh. kanjeng syekh dudu pengen pujian lan kaagungan ning sedoyo manuso tapi siji kepingine panjenengan kanjeng syekh yaiku manuso weruh lan akrab karo Gustine.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s