RSS

MEMBERI

26 Jun

MEMBERI

Oleh: Bernard Prasodjo (MP 9)

Kita dapat “MEMBERI” dengan berbagai cara, tidak hanya terbatas pada materi, perhatian, waktu, tenaga, pengetahuan dan pikiran, tetapi dapat juga dalam bentuk visualisasi, afirmasi dan mengirimkan bentuk pikiran tentang kesehatan, cinta dan kebajikan. Tidak menjadi soal benar betapa “kecil”-nya pemberian yang mula-mula kita berikan, selama kita memberikannya dengan keinginan yang benar-benar tulus dan tanpa syarat, juga berkemauan untuk melepaskan semua keinginan untuk tetap menguasai sesuatu yang kita berikan itu.

Kita dapat melatih diri untuk memberi, di mana saja kapan saja. Agar dapat merasakan bagaimanakah pengaruhnya terhadap diri kita, waktu berlatih yang tepat adalah ketika kita sedang merasa sama sekali tidak memiliki sesuatupun untuk diberikan. Memberi pada saat seperti ketika kita merasa sedih dan tidak berdaya, adalah suasana yang tepat bagi munculnya keajaiban. Ketika kita memberikan sisa-sisa terakhir, tanpa diduga sesuatu akan kembali kepada kita berlipat ganda. Kadang-kadang walaupun kita menolaknya, pemberian berlimpah itu akan memaksa masuk dalam kehidupan kita.

Kunci memberi
Memberi adalah menyatakan diri
Memberi adalah sarana utama ekspresi
Memberi adalah melepaskan dengan penuh kesadaran.

Ini adalah hembusan napas kesadaran kita, daya hidup kita. Semua orang berusaha keras mempraktekkan kemurah hatian dengan murni, karena semua orang secara bawah sadar, bahkan dengan sadar ingin membebaskan diri dari ikatan yang membelenggu mereka, apakah itu muncul sebagai usaha untuk membebaskan diri dari kebiasaan makan berlebihan, atau melepaskan diri dari yang disangkanya sebagai musuh yang hidup di sisi lain kehidupan, atau membuka diri sampai mencapai kondisi cinta tak bersyarat.

Pada masa silam kita kebanyakan biasa menyebut pemberian diri sebagai pengorbanan. Pengorbanan hanyalah sebuah ilusi lain yang kita sadari. Karena pengurbanan ditafsirkan dengan adanya suatu kehilangan, atau sebuah pertukaran yang tidak seimbang atau tidak setara. Ini tidak masuk akal. Di situ tidak ada lagi ruang yang tidak terisi, dan tidak ada ruang yang tidak terisi sama banyaknya! Kalau kita merasa bahwa kita telah berkorban, ini merupakan pertanda kelekatan kita pada ilusi– pada pikiran tentang rasa sakit dan perpecahan. Karena pengorbanan seharusnya terjadi tanpa disadari.

Kalau sebuah benih kita tanam dan terus kita pupuk dan kita rawat dengan penuh kasih sayang, dia akan menghasilkan buah yang berlimpah, namun kalau hanya kita simpan saja, tidak akan menghasilkan apa-apa. Tidak hanya benih jambu, tetapi bisa saja benih-benih lain seperti kebaikan, kesabaran, murah hati, pemaaf, kasih sayang, kepedulian terhadap sesama, spiritualitas dan banyak hal-hal positif lainnya, kita harus terus merawat dan memupuknya, tetapi Anda harus berhati-hati, jangan sampai Anda tanam benih yang salah, karena nanti buahnyapun tidak akan anda sukai.

Kedamaian adalah hadiah yang kita terima bila kita suka memberi dan bila kita mau melepaskan hasrat kita. Sebagai embrio kita – benih kita – kita tumbuh dengan penuh ketenteraman, kita berpindah dari penghakiman menuju kasih sayang dan ini akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah ta’ala. Semakin kita bermurah hati di dunia yang materialistis ini, semakin dekat kita menuju kearah kebahagiaan, merasa puas dan mampu mencapai apa yang kita idamkan.

Wassalam,

Ki Dalang CK

 

 
16 Komentar

Ditulis oleh pada 26 Juni 2011 in FAKULTAS INSUN SEJATI

 

16 responses to “MEMBERI

  1. denlanang

    26 Juni 2011 at 10:06 AM

    nyimak kesatu deh

     
  2. denlanang

    26 Juni 2011 at 10:06 AM

    ke-dua

     
  3. anak tunggal

    26 Juni 2011 at 10:08 AM

    WOW KATILU

     
  4. anak tunggal

    26 Juni 2011 at 10:08 AM

    avatarnya plinplan

     
  5. anak tunggal

    26 Juni 2011 at 10:10 AM

    @ kang mas Bernard Prasodjo , ijin nyimak

     
  6. Alimudin

    26 Juni 2011 at 11:17 AM

    @Bernard Prasodjo salam kenal Kang, mohon ijin menyimak

     
  7. Dalang Sosro Bhirowo

    26 Juni 2011 at 11:38 AM

    Assalamu alaikum wr wb…..
    Suatu artikel yg menarik dari Ki Dalang Cipto Kawedar yg di kutip dari Tulisan om Bernard……
    Suatu hal yg membuat kita terbuka mata hati dan menjadikan kita bukan pribadi yg Fanatik thd paham tertentu…..krn fanatik itu juga kurang baik hasil nya……

    @all Bolo SEjati…..Tetap semangat Ya….?
    @denlanang…@anak tunggal…@alimudin……Salam salim kang mas…..Salam hormat saya sbg saudara….100%bersaudara……

     
  8. Alimudin

    26 Juni 2011 at 11:45 AM

    Eh.. pak dosen ada. Salam kembali Ki Dalang Sosro Bhirowo.

    Kang mau tanya kapan mulai perkuliahaan utk kerejekian dan merubah nasib, soalnya udah ngak sabar ni…..

     
  9. uttama adhikari

    26 Juni 2011 at 6:30 PM

    TOP MARKOTOP

     
  10. ayuda prawira

    26 Juni 2011 at 10:17 PM

    Hadir..!

     
  11. manikmaya

    26 Juni 2011 at 11:21 PM

    wah..satu lg pencerahan dr ki dalang cipta kawedar: MANTAP!!!

    @km sosro birowo…betul skali kangmas, brsikap fanatik pasti akan bermasalah. Btw jd keinget ucapan guru sy nih..’bhw sesungguhnya apa yg dikatakan dg hamba yg brserahdiri ialah org tsb tdk akan brsikap fanatik’

     
  12. ugan surya

    26 Juni 2011 at 11:37 PM

    Assalamualaikum wr wb.
    @Ki dalang cipto kawedar:met malam salam salim ki,wejangan yang berbobot ki,mengingatkan
    kita akan ap yang kita miliki hakikatnya mutlak semua milik Allah swt.
    @Ki dalang sosro birowo:salam salim ki.
    @Bolo sejati:salam kenal dan salam persedulurun.

     
  13. arief•ph

    26 Juni 2011 at 11:43 PM

    Ke 12 kah?

     
  14. fredysyifa

    27 Juni 2011 at 5:52 AM

    assalamualaikum….

     
  15. JuraganAer

    27 Juni 2011 at 3:08 PM

    Nyimak smbil geleng2 pala…

    ‘salud’

     
  16. sapu terbang

    29 Juni 2011 at 10:42 PM

    Ki Dalang CK
    Mantap
    All bolosejati salam selamat malam

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s